Apa Yang MembuatkU baHagia..??

26 07 2007

Kekasihku
Akan kubisikkan padamu seuntai kata
Apa yang benar-benar membuatku bahagia

Jiwaku selalu gelisah oleh seribu
pertanyaan:
Jadikah kepapaanku bila tanganku terus
saja memberi?
Jadikah kemalanganku bila hatiku tak
henti mengasihi?
Akankah hasratku kering bila sumberku
terus saja di timba para musafir?
Akankah aku terpenjara dalam gulita bila
cahaya yang meliputiku menjadi suluh
bagi para pejalan yang tersesat?
Apa yang hilang dari diriku bila aku
lebih banyak mendengar dan berhenti bicara?
Apakah kelaparanku bila sisa bekalku
dicuri oleh gembel-gembel di pinggir jalan?
Sedang bahaya apa yang akan menimpaku
bila hatiku senantiasa tenteram?
Sedang kematian apa yang aku pedihkan
bila aku tak pernah merasa kehilangan?

Duhai kekasihku
Dalam perjalananku kutemukan jawaban ini:
Bahwa sungai tak pernah mendendam laut
Sedang laut tak pernah mendendam mentari
Karena mereka mengerti darimana mereka
datang
Dan kemana mereka akan pergi

Kebahagiaan adalah sungai yang bertemu
lautnya
Seperti juga kemudian kupahami
Kemana seharusnya air mataku bergulir
Selain keharibaan para pecinta sesama
Kemana seharusnya senyumku terkembang
Selain ke dalam hati para kekasih Allah.





Senyummu Bangkitkan Asaku

21 07 2007

iNdaH tatapaNmu
MerDu suaramu
haNgat seNtuhanmu
daN maNisnya seNyuMmu
maMpU tuK banGkit kaN asaku
yaNg tLah Lama HanCur
baHkan retak beRkeping-kePing
kau telah ajari aKu
cara untuK MenJadi MaNusia sEjaTi
MaNusia yaNg tetap teGar
daN senanTiasa TerseNyuM walau Hati teRsakiti
taK kan peRnah ku abaikan
seMua kata yang teRLontar daRi BibiR maNisMu
taK kan ku haPus sOsOk bIjaKsana
Yang seLaLu teNangKan aKu
Dan Kini aKu berjanJi
UntuK HiduPKu,DiriKu,dan uNtuK diRimu
baHwa aKu tak kan perNah keMbali Untuk meNgubuR asaKu
YanG duLu seMpat teraBaikan





Puisi Cinta Aku Mimpi

20 07 2007

 

Semalam aku bermimpi
datang seorang puteri
melafaskan kata-kata cinta nya kepada ku
Dan aku tersadar dari lena ku.

Harum baunya
Maseh sahaja terasa
Dan diri ini
Sering terbuai dek mimpi
Lalu aku sering bertanya
bilakah kita
dapat bertemu ..





Hati yang Teriris

18 07 2007

Cape dech……
kenapa baru sekarang terungkap?
setelah aku begitu cinta dan sayang padamu?
kenapa kita pacaran jika hanya terpaksa?

jika masih ada dia dihatimu?
kenapa kau menerima aku jadi kekasihmu?
kenapa………kenapa………?

MOGAH KAMU BAHAGIA DENGAN DIA………

AKU HANYA BISA BER DO’A………..SELAMAT





Puisi dan Pendidikan

18 07 2007

 

 

HIDUP baginya adalah puisi itu sendiri. Setiap orang dapat secara bebas menterjemahkan puisi menurut pemahaman masing-masing. Pun dirinya memandang sebuah dunia hanya dengan kata-kata. Hari yang berganti adalah bait-bait yang musti dilalui. Diisi dan dipahami. Walau terkadang justru menjadi sebuah misteri.

Ia menyeruput kopi yang baru saja dihidangkan. Sebatang rokok digapitkan di antara kedua bibirnya dan disulutnya. Kususul dengan menyalakan sebatang rokok setelah menyeruput cangkir berisi kopi.

“Ya, begitulah aku memandang hidup ini. Sebuah puisi.”

Lelaki itu selalu datang ke rumah tak lebih dari dua kali dalam seminggu. Walau orang-orang di desa ini, mengatakan bahwa lelaki itu tidak seratus persen – agak tidak waras. Tapi, aku selalu membujuknya untuk menyambutn seperti tamu-tamu yang lain.

Bagiku lelaki ini adalah sesosok yang istimewa. Betapa tidak, dalam sehari ia dapat menghasilkan lebih dari dua puluh puisi. Sebagai seorang Dosen ……. Perguruan Tinggi Swasta, aku cukuplah paham dengan apa yang dituliskannya. Ah, bagaimanapun juga ketika aku baru datang di desa ini, lelaki itulah yang menjadi teman pengisi waktu luang. Juga perkenalanku, juga tak luput dari bantuannya.

Pernah suatu kali aku menawari dirinya untuk mengirimkan puisi-puisinya ke koran. Kukatakan padanya bahwa puisi yang termuat di koran mendapatkan honor yang lumayan. Tapi, lelaki itu mengelengkan kepala. Ia hanya menulis puisi untuk dirinya sendiri.

Alasannya masih tetap membuatku untuk terus mengejarnya. Kulakukan ini karena orang-orang kampung memintaku untuk menasehati lelaki itu agar mau bekerja, karena ia adalah satu-satunya anak dari seorang perempuan yang hampir berkalang tanah. Lagi-lagi ia hanya tertunduk dengan muka sedih, ketika kunasehati.

Hingga teguk kopi terakhir, lelaki itu masih tertunduk dengan muka sedih. Ia tak lagi membicarakan bahwa hidup adalah sebuah puisi. Kini aku benar-benar menjadi seorang dosen yang tengah memarahi siswanya yang mendapat beasiswa tak mengerjakan tugas di kelas, karena Kampus Beasiswa-Wirausaha ini diutamakan kedisiplinan bagi anak-anak yang mendapatkan beasiswa.

“Kau harus bekerja. Lihatlah ibumu, dia sudah tua dan sakit pula. Siapa lagi kalau bukan dirimu yang merawatnya. Aku yakin kamu dapat hidup dengan puisi-puisimu. Begini sajalah, aku akan membantumu mengirim ke koran. Biaya pengiriman biarlah aku yang menanggungnya. Gimana?”

Kulihat segores harapan di mukanya. Ia masih akan mempertimbangkan bahwa dirinya akan melakukan apa yang telah kusarankan. Hatiku lega melihat masa depannya. Seperti biasa, ia akan menyerahkan sebuah buku kepadaku sebelum pergi.

“Aku akan mencatat hari dengan puisi.” Katanya seraya pergi.

***

Pernah juga aku merasa iri kepada lelaki puisi – akulah satu-satunya orang yang menyebut dirinya sebagai lelaki puisi, karena ia dapat seproduktif itu membuat puisi. Aku, yang boleh kau sebut sebagai Dosen puisi, belum pernah membuat puisi sehebat itu dan sebagus itu.

Aku menyukai beberapa dari puisinya. Aku mengedit dan mengetiknya dengan mesin tik yang nantinya akan kukirimkan kepada redaktur koran lokal di kota. Aku optimis karena tema puisinya adalah tema-tema sosial, walau terkadang aku juga menemukan puisi-puisi bernadakan cinta.

Salah satu puisi yang kusuka adalah puisinya yang berjudul Oase di Tengah Kota. Entah ijin sastrawan mana yang telah merasuk ke dalam tubuhnya, sehingga ia bisa menulis puisi sehebat itu. Yang aku tahu juga bahwa dirinya juga tak tamat Kuliah. Puisi ini ditulisnya ketika ia pergi ke kota. Kala itu ia mampir di sebuah warung, dan ketika ia hendak memesan makanan ternyata si penjual hanya memberikan piring saja, sedangkan dirinya harus mengambil nasi sendiri. Sepuasnya!

Puisi lainnya adalah potret kata-kata mengenai kemiskinan, para gelandangan, anak-anak yang seharusnya sekolah tetapi mengemis di jalanan, dan masih puluhan tema sosial lainnya.

Dan sebuah puisi berjudul Setangkai Mawar Layu yang kuselipkan di Telingamu adalah sebuah puisi cinta yang muram. Ia sering menyebutkan nama Muslikah di beberapa puisi cintanya. Entah siapa perempuan yang namanya selalu disebutkan di puisi-puisi cintanya.

***

Semenjak ibunya meninggal, lelaki puisi itu semakin jarang datang ke rumah. Ia juga jarang membuat puisi lagi. Terakhir kalinya aku bertemu dengannya ketika aku ikut nyatus¹di rumahnya. Kulihat raut mukanya yang berat oleh kesedihan.

Dan siang itu, seorang pegawai pos datang ke sekolahan memberikan sebuah wesel kepadaku. Wesel tersebut bertuliskan nama Lelaki Puisi itu. Terang saja, sepulang dari mengajar, aku langsung bergegas ke rumah Lelaki Puisi. Di sana aku sama sekali tak menjumpai dirinya. Entah kemana dirinya pergi.

Tetangganya mengatakan kepadaku bahwa dirinya sekarang bekerja menjadi buruh tani. Aku terperanjat mendengarnya. Ternyata lelaki itu sekarang mau bekerja. Dan aku menyusuri petak-petak tanah mencarinya. Orang-orang di sawah terkejut melihat diriku turun ke sawah.

“Siang Pak Dosen!” sapa sebagian mereka.

Kulihat Lelaki Puisi tengah nyangkul di sawah. Aku panggil dirinya. Kukatakan bahwa beberapa puisinya di muat oleh koran lokal di kota. Dan dirinya mendapatkan honor yang lumayan. Dia diam untuk beberapa sesaat, sebelum memutuskan untuk berhenti menulis puisi dan bekerja.

Pak Dosen, jual saja puisiku ke koran. Uangnya bisa untuk biaya anak-anak yang nggak punya biaya untuk kuliah.”

Aku melangkah pulang dengan perasaan haru dan heran!





Puisi Cinta Kenangan Bersama

27 04 2007

Pada sekuntum mawar yang mekar
dan air sungai yang mengalir
disitu ku lihat
terukir wajah mu
dan tertulis….
kisah cinta kita berdua.

Sebuah nostalgia yang lalu
tidak mudah untuk ku lupakan
dan masih ku simpan erat-erat
didalam sebuah potret
wajah kita bersama.